KEL.BESAR ABU ALIFA

KEL.BESAR ABU ALIFA

Senin, 02 Februari 2015

MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO'A


DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM 
Pada Sidang Dewan Hisbah VIII - 2009
Di PC Persis Soreang, 10 Sya'ban    1430 H
02 Agustus 2009 M

Tentang : 

"MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO'A"

بسم الله الرحمن الرحيم

Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah :

MENGINGAT :

Hadits-hadits Rasulullah saw. tentang berdo'a sambil mengangkat tangan pada saat mendo'akan orang lain atau suatu kaum. Seperti, 

Dari Aisyah ra, ia berkata :

دحل على النبي ص بأسيرفلهوت عنه فذهب فجاء النبي ص فقال ما فعل الأسير قالت لهوت عنه مع النسوة فقال ما لك قطع الله يدك أو يديك فخرج فآذن به الناس فطلبوه فجاءوابه فدخل علي واناأقلب يدي فقال مالك أجننت, قلت دعوت علي فأنا أقلب يدي أنظر أيهما يقطعان فحمد الله وأثنى عليه ورفع يديه مدا وقال اللهم إنى بشر أغضب كما يغضب البشر  فأيمامؤمن أو مؤمنة دعوت عليه فاجعله له زكاة وطهورا. رواه احمد و إسحاق بن راهويه, والبيهقي

Nabi saw. menemuiku bersama seorang tawanan, lalu aku memalingkan perhatian darinya kemudian ia pergi. Maka datanglah Nabi saw. seraya berkata, Apa yang dilakukan oleh tawanan itu? Aisyah berkata, "aku bersama sekelompok perempuan memalingkan pehatian darinya, lalu iapun keluar. Nabi saw. berkata, "kenapa dengan kamu! Apakah Allah akan memotong tanganmu atau kedua tanganmu?. Lantas beliau keluar dan memberitahukan kepada orang-orang (agar mencari tawanan itu). Kemudia mereka mencarinya dan mereka datang dengan tawanan itu. Maka Nabi berkata, "Kenapa denganmu, apakah kamu menutupinya? Aku berkata, "Engkau telah mendo'akanku, maka aku mengebelakangkan tanganku, aku ingin melihat apakah keduanya terputus. Maka beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya serta mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seraya berdo'a, "Ya Allah! Sesungguhnya aku ini manusia biasa, aku marah seperti manusia-pun suka marah, maka mukmin atau mukminat mana saja yang aku pernah mendo'akan (kejelekan), jadikanlah baginya sebagai pembersih dan penyuci (terhadap dosanya)". H.r. Ahmad, Musnad al-Imam Ahmad, XXXX : 303, Ishaq bin Rahawaeh, al-Musnad II : 543, Al-Baihaqi, al-Sunanu Al-Kubro, XI : 98, Syu'aeb Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhary dan Muslim, Musnad Imam Ahmad, xxxx : 304


عن أبى الزبير عن جابر قال قدم الطفيل بن عمرو الدوسي على رسول الله ص بمكة... فقص الطفيل رؤياه على رسول الله ص فرفع رسول الله ص يديه فقال اللهم وليديه فاغفر اللهم وليديه فاغفر اللهم وليديه فاغفر. رواه بن حبان والحاكم وابو يعلى. والبخارى, فى الادت والطبراني فى الاوساط

Dari Abi Az-Zubair dari Jabir, ia mengatakan, Ath-Thufail bin Amr ad-Duwasi menjumpai Nabi saw. di Makkah.... Kemudian Ath-Thufail menceritakan kisah (mimpinya) itu kepada Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya dan berdo'a, "Ya Allah! Untuk kedua tangannya, ampunilah ia, Ya Allah! Dan untuk kedua tangannya ampunilah ia, Ya Allah ! Dan untuk kedua tangannya, ampunilah ia". Hr. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban V : 9, Al-Hakim, al-Mustadrak, IV : 86, Abu Ya'la, Musnad Abu Ya'la IV : 126, Al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, hal. 215, Raf'u al-Yadain fi as-Shalah, hal 140, Ath-Thabrani, al-Mu'jamu al-Ausath, III : 204


عن عبد الله بن عمروبن العاص أن رسول الله ص تلا قول الله عز وجل فى إبراهيم (رب إنهن أضللن كثيرا من الناس فمن تبعني فإنه مني) الآية. وقال عيسى عليه السلام (إن تعذبهم فإنهم عبادك وإنتغفر لهم فإنك أنت العزيز الحكيم) فرفع يديه وقال اللهم أمتي أمتي وبكى ... رواه مسلم وابو عوانة و النسائ و البيهقي و ابن مندة

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, sesungguhnya Nabi saw. membaca firman Allah azza wa jalla mengenai Ibrahim, ("Ya Allah! Sesungguhnya mereka (berhala-berhala) telah banyak menyesatkan manusia, siapa yang mengikutiku sesungguhnya ia dari golonganku").. Dan Nabi Isa as. berkata, (Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana). Lalu Nabi saw mengangkat kedua tangannya dan berdo'a, "Ya Allah! Umatku...Umatku! Sambil menangis. H.r. Muslim, Shahih Muslim I :191, Abu 'Awanah, al-Musnad I : 137, An-Nasai, Al-Baihaqi dan Ibnu Mundah


عن سالم عن أبيه قال بعث النبي ص خالدبن الوليد إلى بنى جذيمة فدعاهم إلى الإسلام فلم يحسنوا أن يقول أسلمنا فجعلوا يقولون صبحنا صبحنا فجعل خالد يقتل منهم... فذكرناه فرفع النبي ص يده فقال اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد مرتين.  رواه البخاري و ابن حبان و البيهقي و النسائ و عبد الرزاق و احمد وعبد بن حميد

Dari Salim, dari bapaknya ia mengatakan, Nabi saw. mengutus Khalid bin Al-Walid ke Bani Jadzimah. Ia mengajak mereka untuk memeluk islam, akan tetapi mereka tidak mengetahui (mengerti dengan baik) untuk mengatakan kami berserah diri. Bahkan mereka mengatakan, kami berpindah agama, kami berpindah agama. Maka mulailah Khalid membunuh salah seorang diantara mereka... lalu kami terangkan hal itu kepada beliau, maka Nabi mengangkat tangan seraya berdo'a, Ya Allah! Sesungguhnya aku melepas diri dari apa yang telah diperbuat oleh Khalid (diucapkan dua kali). H.r.Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari III : 70, Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban VII : 120, Al-Baihaqi, Al-Sunan al-Kubra IX : 115, An-Nasai, al-Sunan al-Kubra III : 474, Abdurrazaq, al-Mushannaf V : 222, X : 174, Ahmad, musnad al-Imam Ahmad X : 444, Abd bin Humaid, al-Musnad I : 239

MENDENGAR :

1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH. Usman Sholehuddin
2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis K.H. Drs. Shiddiq Amien, MBA
3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh K.H.Drs. Uus M Ruhiat
4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut diatas

MENIMBANG :

1. Perlunya kejelasan hukum mengenai permasalahan mengangkat tangan sambil berdo'a
2. Adanya pendapat yang mengatakan boleh berdo'a sambil mengangkat tangan kapan pun dan dalam kondisi apapun
3. Hadits-hadist Rasulullah saw yang menerangkan bahwa beliau berdo'a sambil mengangkat tangan dalam kondisi-kondisi tertentu
4. Lemahnya istidlal orang yang mengatakan bahwa boleh mengangkat tangan pada setiap do'a

Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam 

MENGISTINBAT :

1. Berdo'a dan kaifiyyatnya adalah ta'abbudi
2. Mengangkat kedua tangan waktu berdo'a pada kondisi dan tempat tertentu di syari'atkan
3. Berdo'a sambil mengangkat kedua tangan pada kondisi dan tempat tertentu yang tidak ada keterangan yang sahih adalah bid'ah

Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

  الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإ سلام و المسلمين

Bandung, 11  Sya'ban  1430 H
               02 Agustus   2009 M

Ketua                                              Sekretaris

  ttd                                                       ttd

KH.USMAN SHOLEHUDDIN          KH.WAWAN SHOFWAN Sh 
NIAT : 05536                                NIAT : 30400



Maaf haditsnya (dalil) belum saya muat semuanya...!

Minggu, 01 Februari 2015

FINGER PRINT UNTUK MENENTUKAN BAKAT DAN KEMAMPUAN MELALUI SIDIK JARI



“FINGER PRINT UNTUK MENENTUKAN BAKAT DAN KEMAMPUAN MELALUI SIDIK JARI”

بسم الله الرحمن الرحيم


Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:
 
Firman Allah SWT : 

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا . إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا. [الجن: 26، 27]

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya (Surat Al Jinn: 26-27)

{ قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ} [النمل: 65]

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.

Hadis Nabi SAW :

وقال النبي صلى الله عليه وسلم :  (من اقتبس شعبة من النجوم فقد اقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد) ( صحيح ) رواه أحمد ( 1 / 227 ، 311 ) ، وأبو داود ( 3905 ) ، وابن ماجه ( 3726 ) ، والبيهقي ( 8 / 138 ) وقد سكت عنه الإمام أبو داود وصححه الألباني ، وقال الشيخ أحمد شاكر : إسناده صحيح

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mempelajari satu bagian dari ilmu nujum berarti telah mempelajari satu cabang dari sihir. Bertambah sesuai tambahannya”.


سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ [فصلت: 53]

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً [الإسراء: 70]

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُونَ [الذاريات: 21]

dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?


أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ . بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَه [القيامة: 3، 4]

Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (Al-Qiyamah: 3-4)


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ وَهُوَ مَسْرُورٌ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَلَمْ تَرَيْ أَنَّ مُجَزِّزًا الْمُدْلِجِيَّ دَخَلَ عَلَيَّ فَرَأَى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ وَزَيْدًا وَعَلَيْهِمَا قَطِيفَةٌ قَدْ غَطَّيَا رُءُوسَهُمَا وَبَدَتْ أَقْدَامُهُمَا فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ الْأَقْدَامَ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ

Dari Aisyah ra  berkata, “Suatu hari Rasulullah masuk ke rumah ku dengan wajah yang ceria. Beliau berkata, “Wahai Aisyah, tahukah kamu bahwa Mujazziz al Mudliji masuk ke rumah ku kemudian ia melihat Usamah bin Zaid dan Zaid (ayahnya) sedang tidur berselimut menutupi kepala keduanya, sedang telapak kaki mereka nampak. Kemudian ia (Mujazziz) berkata, “Sesungguhnya telapak kaki-telapak kaki ini sebagiannya dari yang lainnya”. (Imam Bukhary meriwayatkan dalam Shahihnya Bab Al Qâif dan pada Bab Manaqib Zaid bin Haritsah; Imam Muslim dalam Bab Al ‘Amal biilhaq al Qâif al Walad)


Bahwa yang dimaksud dengan syirik itu adalah :

أن ترى لبعض المخلوقات سلطة غيبية وراء الأسباب العادية

“Memandang sebagian makhluk mempunyai kekuasaan (pengetahuan) ghaib, dibalik sebab-sebab yang biasa”

MEMPERHATIKAN :  
  1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin
  2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.
  3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: K.H. Jeje Zaenudin M.Ag.
  4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas.
MENIMBANG:
  1. Fingerprint (sidik jari) merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah pada tangan manusia.
  2. Pemanfaatan sidik jari untuk menganalisa forensik telah sejak dahulu terjadi dan hasilnya diyakini kebenarannya.
  3. Pemanfaatan sidik jari untuk mengetahui potensi bakat, karakter dan kemampuan, telah terjadi.
  4. Ghaib dibagi dua ; Ghaib Mutlak (Absolut) dan Ghaib Nisbi (Relatif).
  5. Perlu kejelasan hukum tentang mengetahui potensi bakat, karakter dan kemampuan seseorang melalui test sidik jari.
Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBATH :
  1. Fingerprint Test yang digunakan untuk mengetahui potensi bakat dan kemampuan seseorang yang bersifat nisbi (relatif), tidak termasuk syirik.
  2. Menggunakan sidik jari dan telapak tangan untuk meramal nasib adalah syirik.
Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan  makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung,  25 Rabi’ul Awwal 1433 H

                 18 Februari 2012 M

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

   Ketua                                         Sekretaris

 ttd                                                ttd

KH. USMAN SHOLEHUDDIN      KH. ZAE NANDANG
NIAT:  05536                               NIAT: 1351

HUKUM BANK "ASI"




” HUKUM BANK ASI ”

بسم الله الرحمن الرحيم


Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.
( QS.Al Baqarah : 233 )

وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ

“(Diharamkan atas kamu mengawini) Ibu-ibumu yang menyusui kamu dan saudara perempuan sepersusuan.” (Qs an Nisa’ : 23)

Hadits Nabi SAW :

عن ابن عباس ان النبي ص : أريد على ابنة حمزة .فقال انها لا تحل لى انها ابنة اخي من الرضاعة . ويحرم من الرضاعة ما يحرم من النسب ( متفق عليه)

Dari Ibnu Abbas : Bahwa nabi SAW. Diminta untuk menikahi anak Hamzah, maka sabdanya : “Sesungguhnya ia tidk halal bagiku, karena itu anak bagi saudara susuku. Karena haram dari penyusuan itu apa-apa yang diharamkan dengan nasab.

انَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنْ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنْ الْقُرْآنِ

“Dahulu dalam Al Qur`an susuan yang dapat menyebabkan menjadi mahram ialah sepuluh kali penyusuan, kemudian hal itu dinasakh (dihapus) dengan lima kali penyusuan saja. Lalu Rasulullah saw wafat, dan ayat-ayat Al Qur`an masih tetap di baca seperti itu.” ( HR Muslim )

Kaidah Fiqhiyyah :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menghindari kerusakan-kerusakan itu harus didahulukan dari pada mengambil kemaslahatan”

MEMPERHATIKAN :
1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin
2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M Abdurrahman, MA.
3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: 1. KH. Taufik Azhar, S. Ag, 2. Dr. Hari Rayadi, Mars AV
4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas

MENIMBANG:
 
1. Air susu adalah asupan terbaik untuk bayi yang tidak tergantikan nilainya.
2. ASI dari seorang ibu dapat diberikan kepada bayi, walaupun bukan anaknya.
3. ASI bisa diberikan kepada bayi baik langsung ataupun tidak langsung.
4. Dalam kadar tertentu, bayi-bayi yang menyusu kepada ibu yang sama menjadi saudara sesusu dan termasuk mahram.
5. Keberadaan Bank ASI terus berkembang sesuai dengan kebutuhan ibu dan anak.
6. Pada kenyataannya, tidak semua mengerti dan memperhatikan hukum mahram akibat dari saudara sesusu.
7. Perlu kejelasan hukum bank ASI.

Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam
 
MENGISTINBATH :
 
1. Bank ASI yang tidak memelihara kejelasan asal usul ibu pendonor dan bayi penerima donor, sehingga akan mengakibatkan kerancuan nasab hukumnya haram.
2. Bank ASI yang memelihari kejelasan ibu pendonor dan bayi penerima donor sehingga tidak mengakibatkan kerancuan nasab, hukumnya halal.
3. Menjadikan ASI sebagai komoditi, hukumnya haram.
 
Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 26 Rabi’ul Awwal 1433 H
               19   Februari        2012 M


DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Ketua                                                    Sekretaris

 ttd                                                           ttd

KH. USMAN SHOLEHUDDIN               KH. ZAE NANDANG
NIAT: 05536                                       NIAT: 13511

MENGUBUR PLASENTA (ARI-ARI) BAYI




Tanya : Assalamu`alaikum … pak ustadz Abu yang saya hormati. Didaerah tempat saya tinggal, ada kebiasaan atau tradisi menguburkan ari-ari (plasenta) bayi yang baru lahir didepan rumah dan memberikan lampu (penerangan) dimalam harinya dengan lentera atau lilin sampai beberapa hari. Hal itu mereka yakini (terutama orang tua), jika tidak dipasang lampu, akan menyebabkan hati bayi tersebut menjadi gelap. Bagaimana sebenarnya menurut pandangan syariat Islam. Wassalam JAT Jawa Tengah

Jawab : Wa`alaikumussalam … mengubur ketuban tidak ada masalah dalam syariat Islam. Bahkan sebagian ulama memandang sunnat, seperti halnya dalam kitab Nihayatu al-Muhtaj bab Menguburkan Mayat. Bahkan dalam Hasil Musyawarah Bahtsul Matsa’il NU tentang Mengubur Ari-Ari bahwa mengubur ari-ari disunnahkan. 

Dalam kitab Nihayatul Muhtaj 

وَيُسَنُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ حَالاًّ أَوْ مِمَّنْ شَكَّ فِي مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ ، وَدَمِ نَحْوِ فَصْدٍ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا.  

“Dan disunnahkan mengubur anggota badan yang terpisah dari orang yang masih hidup dan tidak akan segera mati, atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, ‘alaqah (gumpalan darah), dan darah akibat goresan, demi menghormati orangnya”

Sedangkan memberikan wewangian, bunga, kunyit, lampu dan bawang hukumnya haram karena termasuk idla’atul mal. Sedangkan peletakan jenang merah dipojok pembakaran batu bata hukumnya haram. Akan tetapi, jika hal itu dikaitkan dengan kepercayaan atau keyakinan, seperti halnya yang ibu sebutkan, maka tentu ini menyalahi syariat Islam.

Artinya kebiasaan memberikan penerangan dengan memasang lampu ataupun menabur bunga-bunga diatas timbunan ketuban atau ari-ari bayi yang dikubur, jelas tidak dikenal dalam ajaran Islam. Apalagi meyakini bahwa jika tidak dikasih lampu penerangan, maka hati bayi yang dilahirkan gelap. Sebab adat atau kebiasaan yang diperbolehkan menurut syara’ adalah sejauh tidak ada unsur tathayyur, istizlam, idla’atul mal yang tidak ada tujuan yang benar. Jika meyakini bahwa lampu atau tabur bunga ada kaitannya dengan kepercayaan terhadap sesuatu, hal seperti itu jelas termasuk kedalam katagori perbuatan syirik. Allohu A`lam