KEL.BESAR ABU ALIFA

KEL.BESAR ABU ALIFA

Sabtu, 03 Januari 2015

QASHAR BAGI MUSAFIR (Fiqh Ikhtilaf)



A. Dasar Hukum Qashar

1. Al-Quran

وَإِذَا ضَرَ‌بْتُمْ فِي الْأَرْ‌ضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُ‌وا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا ۚ إِنَّ الْكَافِرِ‌ينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا  ۚ

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuhmu yang nyata.(QS.an-Nisa' 101)

2. Al-Hadits Shahih

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا وَتُرِكَتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأُولَى.(رواه البخاري : 3642– صحيح البخاري – المكتبة الشاملة -بَاب التَّارِيخِ مِنْ أَيْنَ أَرَّخُوا التَّارِيخَ- الجزء : 12– صفحة : 323)
Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Azzuhri dari Urwah dari Aisyah ra, ia berkata : (Pada awalnya) shalat itu diwajibkan 2 rakaat, kemudian beliau saw hijrah, maka  shalat itu diwajibkan menjadi 4 rakaat, dan ditetapkan bagi shalat safar atas pertama kali diwajibkannya (yaitu 2 rakaat). (Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz : 12, ha. 323)


حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَطَاءٍ عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدَ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ إِلَّا الْمَغْرِبَ فُرِضَتْ ثَلَاثًا لِأَنَّهَا وِتْرٌ قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَافَرَ صَلَّى الصَّلَاةَ الْأُولَى إِلَّا الْمَغْرِبَ فَإِذَا أَقَامَ زَادَ مَعَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ إِلَّا الْمَغْرِبَ لِأَنَّهَا وَتْرٌ وَالصُّبْحَ لِأَنَّهُ يُطَوِّلُ فِيهَا الْقِرَاءَةَ.(رواه احمد : 25080– مسند احمد– المكتبة الشاملة –باب باقى المسند الاسابق– الجزء : 53– صفحة :238)

Telah menceritakan kepada kami Abdulwahhab bin ‘Atha’ dari Dawud bin Abu Hindi dari Asy-Sya’bi, dari Aisyah, ia berkata : Shalat telah diwajibkan 2 rakaat, 2 rakaat kecuali maghrib, ia 3 rakaat, karena ia adalah shalat ganjil. Aisyah berkata : Rasulullah saw bila bepergian mengerjakan shalat yang awal (yaitu 2 rakkat) kecuali shalat maghrib (tetap dikerjakan 3 rakat); dan apabila beliau menetap (mukim), beliau menambah untuk masing-masing 2 rakaat, 2 rakaat, kecuali shalat maghrib, karena ia adalah shalat ganjil, dan shalat shubuh, karena di dalamnya beliau memanjangkan bacaannya. (HR. Ahmad : 25080, Musnad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab Baqil musnad Assabiq, juz : 53, h. 238)


فَرَضَ الله الصَّلاةَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُم – صلى الله عليه وسلم –  في الحَضَرِ أَربَعًا، وَفي السَّفَرِ رَكعَتَينِ، وَفي الخَوفِ رَكعَةً.
 
“Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam sebanyak 4 rakaat dalam keadaan mukim, 2 rakaat dalam keadaan safar, dan 1 rakaat dalam keadaan takut (shalat khauf).” (HR. Muslim no. 687 dari Ibn Abbas ra)

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَخْنَسِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : فُرِضَتْ الصَّلَاةُ عَلَى لِسَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَضَرِ أَرْبَعًا وَفِي السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ وَفِي الْخَوْفِ رَكْعَةً. (رواه النسائي : 452 – سنن النسائي – المكتبة الشاملة -باب كَيْفَ فُرِضَتْ الصَّلَاةُ – الجزء : 2– صفحة : 235)
 
Telah mengabarkan kepada kami Amr bin Ali, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahya dan Abdurrahman, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Bukair bin Al-Akhnas dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata : Shalat diwajibkan lewat lisan Nabi saw bagi yang tinggal di tempat (mukim) 4 rakaat, dalam keadaan bepergian 2 rakaat, dan dalam keadaan takut satu rakaat. (HR. An-Nasai : 452, Sunan An-nasai, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

B. "Hisbah" Hukum Qashar

Dikalangan fuqaha terjadi silang pendapat mengenai hukum qashar bagi seorang musafir.
1. Wajib
Hukum dari shalat qashar bagi musafir menurut sebagaian ahli fiqih (fuqaha) adalah wajib. Mazhab Abu Hanifah mewajibkan bagi musafir untuk mengqashar shalatnya(lihat Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu ‘alaa Madzaahibil Arba’ah, Juz : 1, Muassasah Al-Mukhtar, Kaero, 2006M/1426H, hal. 381 -383). Begitu juga dengan pendapat Umar bin Abdil Aziz, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Hasan bin Saleh, dan merupakan mazhab Zhahiriah dan selainnya, serta yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar: 3/202.

Diantara hujjahnya :


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : الصَّلَاةُ أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ رَكْعَتَيْنِ فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ.(رواه البخاري : 1028 – صحيح البخاري – المكتبة الشاملة - بَاب يَقْصُرُ إِذَا خَرَجَ مِنْ مَوْضِعِهِ – الجزء : 4 – صفحة : 237)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari ‘Aisyah ra, ia berkata : Shalat pada awal mulanya diwajibkan 2 rakaat, kemudian (ketentuan ini) ditetapkan sebagai shalat safar (2 rakaat) dan disempurnakan (menjadi 4 rakaat) bagi shalat di temapat tinggal (mukim) (Shahih Bukhary)


أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَخْنَسِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : فُرِضَتْ الصَّلَاةُ عَلَى لِسَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَضَرِ أَرْبَعًا وَفِي السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ وَفِي الْخَوْفِ رَكْعَةً. (رواه النسائي : 452 – سنن النسائي – المكتبة الشاملة -باب كَيْفَ فُرِضَتْ الصَّلَاةُ – الجزء : 2– صفحة : 235)

Telah mengabarkan kepada kami Amr bin Ali, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahya dan Abdurrahman, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Bukair bin Al-Akhnas dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata :Shalat diwajibkan lewat lisan Nabi saw bagi yang tinggal di tempat (mukim) 4 rakaat, dalam keadaan bepergian 2 rakaat, dan dalam keadaan takut satu rakaat. (HR. An-Nasai)


Dua keterangan diatas menggunakan (furidha) `diwajibkan` sehingga dijadikan dalil dan berkesimpulan oleh mazhab imam Hanafi dijadikan dasar mewajibkan qashar shalat dalam perjalanan (safar).

 (Bersambung)

Selasa, 02 Desember 2014

BUKAN MAHRAM MELETAKKAN JENAZAH

Tanya  :  Bismillah … Ustadz Abu Alifa yang saya hormati, ada beberapa yang ingin saya ketahui secara syari’at! Pertama, siapakah yang berhak menguburkan? Kedua, Bolehkah laki-laki yang bukan muhrim meletakkan jenazah istri saya? Ketiga, apakah hukumnya yang sedang junub menguburkan jenazah? Syukran!

Jawab : Bapak RS yang saya hormati, Pertama, tentu yang lebih layak dan berhak menguburkan (mungkin meletakkan dikuburan) adalah keluarganya diantaranya suami dan anak-laki2nya.


وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ الله


“Dan orang-orang yang memiliki hubungan darah (mahram) satu sama lain lebih berhak dalam kitab Allah”(QS.Al-ahzab: 6).


Kedua dan Ketiga, lebih diutamakan yang meletakkan jenazah kekuburan adalah laki-laki yang malamnya tidak bercampur dengan istrinya. Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw saat menguburkan putrinya (Ummu Kulsum). Bahkan shahabat Ustman bin Affan yang merupakan suami dari putri nabi saw itu dicegah secara halus oleh beliau. Saat jasad putri beliau,  ternyata yang meletakkan kekuburan itu adalah Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid dan Thalhah Al-Anshary radhiyallohu-anhum.

عنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ شَهِدْنا بنتَ رَسولِ اللهِ صلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ, وَرَسولُ اللهِ صلى اللهُ عليهِ وَسَلّمَ جالسٌ على القبرِ فرَأَيْتُ عينَيْهِ تَدْمَعَانِ, فَقَالَ: هَلْ فِيكُمْ مِنْ أَحَدٍ لَـمْ يُقَارِفْ اللَّيْلَةَ؟ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ أَنَا, قَالَ فَانْزِلْ فِي قَبْرِهَا فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا فَقَبَرَهَا

Dari Anas ra, ia berkata: Kami menyaksikan pemakaman salah satu putri Rasulullah saw. beliau duduk di sisi kubur putrinya, aku melihat kedua mata beliau berlinang air mata, beliau bertanya, “Adakah seseorang yang tidak mendatangi istrinya semalam?”Abu Thalhah menjawab, “Saya.” Kata beliau: “Turunlah!” Lalu Abu Thalhah turun dan menguburkannya (HR. Bukhari, no 1342)


Peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw tersebut menjadi dalil bahwa bolehnya lelaki ajnabi (asing/bukan mahram) menguburkan atau meletakkan jenazah ke liang lahad. Tetapi dalil diatas juga bukan mengharamkan orang junub atau yang sudah bercampur malamnya dengan istri untuk menguburkankan. Secara pribadi saya menyimpulkan bahwa mendahulukan lelaki ajnabi yang tidak menggauli istri pada malam sebelumnya dari suami atau mahram yang malamnya bercampur, dalam menguburkan jenazah wanita lebih bersifat mustahabb (sunnah) dan lebih afdhal. Allohu A’lam

Sabtu, 19 Juli 2014

BERCAMPUR 10 TERAKHIR BULAN RAMADHAN



Tanya : Assalamu’alaikum wrwb. al-ustadz Abu Alifa, mohon penjelasannya mengenai 10 akhir dibulan ramadhan. Ada yang berpendapat bahwa disepuluh akhir itu suami istri tidak diperkenankan “berhubungan”, hal tersebut berdasarkan pada sabda Nabi saw “bahwa jika memasuki 10 akhir, Nabi mengencangkan ikat pinggang dan menghidupkan malamnya serta membangunkan keluarganya”. Bagimana pendapat ustadz sendiri? Terimakasih Sumbar

Jawab : Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Jika merujuk kepada al-Quran yang bertalian dengan malam dibulan ramadhan, maka tentu tidak ada larangan untuk berhubungan, bahkan Allah swt menghalalkan berhubungan itu. Adapun larangan berhubungan suami istri dalam ayat tersebut adalah bagi para suami yang melakukan i’tikaf (dimasjid). Ayat yang dimaksud :

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Telah dihalalkan atas kamu pada malam hari shaum (bulan ramadhan), bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu, Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah kamu, hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah shaum itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri istri-istrimu sedangkan kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia supaya mereka menjadi bertaqwa (QS. 2 : 187)

Jadi larangan berhubungan atau bercampur dengan istri dimalam bulan ramadhan itu dialamatkan bagi mereka (para suami) yang sedang melaksanakan i’tikaf dimasjid, sedangkan bagi yang tidak melaksanakan i’tikaf, maka hukum larangan itu tidak ada. Allohu A’lam

Selasa, 15 Juli 2014

TARAWIH DISELINGI CERAMAH


Tanya : Bismillah …pak ustadz Abu, bagaimana hukumnya shalat tarawih setelah 8 rakaat diselingi ceramah? Mohon pencerahannya! Jama’ah M.Muthmainnah

Jawab : Secara hukum hemat kami shalat tarawih tersebut sah. Akan tetapi akan lebih baik jika shalat tarawih itu tidak diselingi oleh ceramah, mengingat 11 rakaat itu satu “paket” shalat malam dibulan ramadhan. 

Hal itupun supaya tidak ada penilaian atau kesan bahwa ceramah itu bagian dari shalat tarawih, atau penilaian bahwa 3 rakaat (witir) itu seolah dilaksanakan setelah ceramah (terlebih dahulu). Maka secara pribadi saya mengusulkan kepada pengurus masjid, kalaupun ada ceramah sebaiknya dilaksanakan setelah shalat Isya atau menjelang qiyam ramadhan yang 11 rakaat itu. Allohu A’lam