KEL.BESAR ABU ALIFA

KEL.BESAR ABU ALIFA

Rabu, 06 Mei 2015

يحشر عشرة أصناف من أمتي


قوله تعالى : يوم ينفخ في الصور أي للبعث فتأتون أي إلى موضع العرض . أفواجا أي أمما ، كل أمة مع إمامهم . وقيل : زمرا وجماعات . الواحد : فوج . ونصب يوما بدلا من اليوم الأول . وروي من حديث معاذ بن جبل قلت : يا رسول الله ! أرأيت قول الله تعالى : يوم ينفخ في الصور فتأتون أفواجا فقال النبي - صلى الله عليه وسلم - : " يا معاذ بن جبل لقد سألت عن أمر عظيم " ثم أرسل عينيه باكيا ، ثم قال : " يحشر عشرة أصناف من أمتي أشتاتا قد ميزهم الله تعالى من جماعات المسلمين ، وبدل صورهم ، فمنهم على صورة القردة وبعضهم على صورة الخنازير وبعضهم منكسون : أرجلهم أعلاهم ، ووجوههم يسحبون عليها ، وبعضهم عمي يترددون ، وبعضهم صم بكم لا يعقلون ، وبعضهم يمضغون ألسنتهم ، فهي مدلاة على صدورهم ، يسيل القيح من أفواههم لعابا ، يتقذرهم أهل الجمع ، وبعضهم مقطعة أيديهم وأرجلهم ، وبعضهم مصلبون على جذوع من النار ، وبعضهم أشد نتنا من الجيف ، وبعضهم ملبسون جلابيب سابغة من القطران لاصقة بجلودهم ; فأما الذين على صورة القردة فالقتات من الناس - يعني النمام - وأما الذين على صورة الخنازير فأهل السحت والحرام والمكس . وأما المنكسون رؤوسهم ووجوههم ، فأكلة الربا ، والعمي : من يجور في الحكم ، والصم البكم : الذين يعجبون بأعمالهم . والذين يمضغون ألسنتهم : فالعلماء والقصاص الذين يخالف قولهم فعلهم . والمقطعة أيديهم وأرجلهم : فالذين يؤذون الجيران . والمصلبون على جذوع النار : فالسعاة بالناس إلى السلطان والذين هم أشد نتنا من الجيف فالذين يتمتعون بالشهوات واللذات ، ويمنعون حق الله [ والفقراء ] من أموالهم . والذين يلبسون الجلابيب : فأهل الكبر والفخر والخيلاء
 (تفسير القرطبى ج ١٠ صفحه ١٤٥)

ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ


أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُعَافَى الْعَابِدُ بِصَيْدَا ، قَالَ : حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي الْعَاتِكَةِ ، قَالَ : حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ حَبِيبٍ الْمُحَارِبِيُّ ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " ثَلاثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ ، إِنْ عَاشَ رُزِقَ وَكُفِيَ ، وَإِنْ مَاتَ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ : مَنْ دَخَلَ بَيْتَهُ فَسَلَّمَ ، فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ ، وَمَنْ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ ، وَمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ " صحيح ابن حبان » كِتَابُ الْْْبِِّر وَالإِحْسَانِ » بَابُ إِفْشَاءِ السَّلامِ وَإِطْعَامِ الطَّعَامِ

"... Dari Abi Umamah. Bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda : Tiga (golongan) yang kesemuanya penjamin atas Allah. Jika masih hidup (setelah itu), maka (Allah) melimpahkan rizki dan mencukupinya, jika meninggal (setelah itu) Allah akan memasukkan kedalam surgaNya. (Yaitu) Orang yang masuk rumahnya dan mengucapkan salam, dia adalah penjamin dari Allah, Orang yang keluar menuju masjid, ia adalah penjamin dari Allah, dan Orang yang keluar untuk (berjihad) dijalan Allah, ia penjamin dari Allah. HR.Ibnu Hibban

Sabtu, 02 Mei 2015

"MENCINTAI" ADIK ANGKAT


Tanya  : Assalamu'alaikum ... pak ustadz Abu Alifa saya "menyukai" saudara (adik) angkat. Ceritanya begini, ketika umur saya 11 tahun mamah dan bapak mengurus dari kecil seorang anak perempuan, dan sekarang adik angkat perempuan itu sudah menginjak dewasa (16 tahun). Terus terang perempuan itu "mengundang" perasaan saya bukan hanya cinta seorang kakak kepada sang adik melainkan "cinta" karena ia seorang wanita yang "cantik". Pak ustadz apakah dibenarkan jika suatu saat saya bermaksud menikahinya? BR

Jawab  : Wa'alaikumussalam ... anak yang diurus oleh orang tua anda yang asalnya bukan mahram atau sepersusuan, tentu tidak menghalanginya untuk anda nikahi. Jangankan oleh anda, oleh ayah anda saja secara hukum anak yang diurus tidak menjadikannya mahram (jika sudah dewasa) dan tidak ada larangan untuk menikahinya. Sebab dalam Islam anak yang "dipungut" ataupun di adopsi tidak lantas menjadikan anak tersebut menjadi mahram. Bahkan jika tahu orang tua anak tersebut, maka nisbah anak tersebut tetap harus dikaitkan dengan ayah kandungnya. 

حدثنا قتيبة حدثنا يعقوب بن عبد الرحمن عن موسى بن عقبة عن سالم بن عبد الله بن عمر عن أبيه قال ما كنا ندعو زيد بن حارثة إلا زيد ابن محمد حتى نزلت ادعوهم لآبائهم هو أقسط عند الله -
سنن الترمذي
"...Dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya berkata. Kami semua (para shahabat) tidak pernah memanggil "Zaid bin Haritsah" kecuali dengan panggilan "Zaid bin Muhammad", sehingga turun kepada kami (ayat) ..."Dan panggilah mereka (anak-anak angkatmu) dengan memakai ayah-ayah (kandung) mereka! Hal itu lebih adil disisi Allah...(QS.al-Ahzab 5). HR.Tirmidzi

Ayat ke-5 dalam surat al-Ahzab tersebut menunjukkan bahwa status anak angkat tidak menjadikannya mahram. Hal ini ditujukkan dengan perintah Allah untuk memanggil dan menisbatkan anak angkat itu tetap kepada ayah kandungnya. Bahkan dalam sejarah Nabi shallallahu alaihi wa sallam menikahi istri mantan dari anak angkatnya Nabi. Apalagi hal itu seperti yang anda inginkan. Jadi secara hukum tidak haram anda menikahi anak angkat orang tua anda atau adik angkat anda. Allahu A'lam

Sabtu, 18 April 2015

MANDI BERSAMA SUAMI ISTRI




Tanya  : Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Perkenalkan nama saya Isna H asal Kalimantan tinggal di Jakarta Selatan. Saya baru mendapatkan blog ini dua minggu lalu yang benar-benar saya cari terutama kedalaman pembahasan, terima kasih atas ilmunya. Sebelumnya saya mohon maaf karena mungkin kedangkalan ilmu yang saya miliki sehingga ikut serta menyampaikan pertanyaan. Ustadz Abu Alifa Shihab, saya sering mandi bersama dengan suami saya dalam keadaan (maaf) telanjang, yang terkadang suami suka minta berhubungan. Yang ingin saya tahu :
1. Apakah mandi bersama dalam keadaan tidak sehelai benangpun melakat, dibenarkan dalam Islam?
2. Bagaimana hukumnya berhubungan ditempat dan saat sedang mandi
Wassalam Isna H 

Jawab : Wa'alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh ...
Dalam beberapa keterangan dijelasakan :


حدثنا عبد الله بن مسلمة أخبرنا أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت كنت أغتسل أنا والنبي صلى الله عليه وسلم من إناء واحد تختلف أيدينا فيه - صحيح البخاري » كتاب الغسل-

"... Dari Aisyah berkata. Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam satu bejana (wadah) dan saling bergantian (mengambil) airnya. (Shahih Bukhary lihat juga Muslim 321)
وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، جَمِيعًا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، قَالَ قُتَيْبَةُ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: أَخْبَرَتْنِي مَيْمُونَةُ: «أَنَّهَا كَانَتْ تَغْتَسِلُ هِيَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ» 

"... Dari Ibnu Abbas berkata, telah memberitahuku Maemunah (istri nabi), sesungguhnya ia pernah mandi bersama Nabi shallalahu alaihi wa sallam dalam satu wadah (Shahih Muslim Kitab Haid)

Sekalipun dalam hadits diatas tidak ada kalimat keduanya terbuka (telanjang), tapi oleh para ulama hadits tersebut menjadi dalil disamping mandi bersama antara suami istri dibolehkan, juga menjadi dalil suami dibolehkan melihat aurat istrinya, begitupun sebaliknya (Fathu al-Baary 1 : 364)

Begitupun masalah berhubungan, jika itu menjadi gairah dalam hubungan suami istri dan tempatnya "aman", maka tak ada larangan melakukannya. Allahu A'lam

Fathul Bari (1/364)
Fathul Bari (1/364)

Jumat, 17 April 2015

MEMBACA SURAT DI DUA RAKAAT TERAKHIR








Tanya  : Bismillah ... Ustadz Abu Alifa, selama ini yang ana lakukan dalam shalat dhuhur dan ashar, ataupun dua rakaat terakhir yang jumlah rakaat dalam shalat wajib itu lebih dari dua rakaat, bacaan shalatnya adalah hanya membaca surat al-fathihah. Akan tetapi ditempat pegajian ada seorang mubaligh yang membahas masalah ini bahwa ada haditsnya juga setelah al-fathihah dicontohkan membaca lagi surat yang lain. Artinya beliau membolehkannya. Bagaimana pandangan ustadz Abu Alifa mengenai hal ini? Hatur Nuhun MD Pangandaran



Jawab : Apa yang bapak MD lakukan dalam shalat dhuhur dsb yang hanya membaca surat al-fathihah di dua rakaat terakhir, berdasarkan beberapa keterangan diantaranya :



حدثنا أبو نعيم قال حدثنا شيبان عن يحيى عن عبد الله بن أبي قتادة عن أبيه قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يقرأ في الركعتين الأوليين من صلاة الظهر بفاتحة الكتاب وسورتين يطول في الأولى ويقصر في الثانية ويسمع الآية أحيانا وكان يقرأ في العصر بفاتحة الكتاب وسورتين وكان يطول في الأولى وكان يطول في الركعة الأولى من صلاة الصبح ويقصر في الثانية



Dari Abdillah bin Abi Qatadah radhiyallahu anhum berkata. Bahwa Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam membaca di dua rakaat pertama shalat dhuhur surat al-fathihah dan dua surat yang lain, (cukup) panjang dirakaat pertama, dan memendekkan di rakaat kedua (suratnya), dan terkadang kedengaran bacaannya. Dan beliau juga membaca di shalat Ashar al-fatihah dan dua surat, begitupun rakaat pertama panjang bacaannya, dan mengurangi (panjang) dirakaat kedua. Dan di dua rakaat akhir (hanya) membaca surat al-fatihah. Dan keadaan Nabi-pun membaca surat yang panjang dirakaat awal shalat shubuh dan mengurangi (panjangnya) dirakaat kedua (Shahih Bukhary)



حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ وَأَبَانُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا وَيَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ



"...Dari Abi Qatadah dari bapaknya, bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam membaca di dua rakaat pertama shalat dhuhur dan ashar dengan al-afathihah dan surat (yang lainnya), bahkan terkadang suka diperdengarkan bacaan ayat-ayat itu. Dan beiau (hanya) membaca di dua rakaat terakhir dengan al-fathihah (HR.Muslim)

 
"...أن ابن مسعود كان يقرأ في الظهر والعصر في الركعتين الأوليين بفاتحة الكتاب وما تيسر وفي الأخريين بفاتحة الكتاب 



Sesungguhnya Ibnu Mas'ud membaca dalam shalat dhuhur dan ashar di dua rakaat pertama al-fatihah dan (surat) yang mudah (hafal selain al-fatihah). Dan di dua rakaat terakhir hanya membaca al-fatihah (Ibn Abi Syaibah)



Sedangkan yang "membolehkan" membaca surat selain al-fatihah didua rakaat akhir, diantaranya didasarkan pada keterangan :


عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه ، قال : كنا نحزر قيام رسول الله صلى الله عليه وسلم في الظهر والعصر ، فحزرنا قيامه في الركعتين الأوليين من الظهر قدر قراءة : الم تنزيل السجدة - وفي رواية - : في كل ركعة قدر ثلاثين آية ، وحزرنا قيامه في الأخريين قدر النصف من ذلك ، وحزرنا في الركعتين الأوليين من العصر على قدر قيامه في الأخريين من الظهر ، وفي الأخريين من العصر على النصف من ذلك ، رواه مسلم 



Dari Abi Sa'id al-Khudri radhiyallahu anh berkata : Kami memperhatikan berdirinya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di shalat dhuhur dan ashar. Kami perhatian berdirinya beliau di dua rakaat pertama dhuhur seukuran membaca (surat) alif lam mim tanzil as-Sajdah- dalam satu riwayat- tiap rakaat seukuran 30 ayat- dan kami perhatikan lamanya berdiri didua rakaat akhir setengahnya dari dua rakaat pertama. Sedangkan kami perhatikan lamanya berdiri dalam shalat ashar di dua rakaat pertama seukuran lamanya dua rakaat akhir shalat dhuhur. Dan lamanya dua rakaat akhir shalat ashar setengahnya dari dua rakaat pertamanya. (HR.Muslim)



Dengan demikian sebagian  ulama membolehkan membaca di dua rakaat terahir untuk shalat dzuhur dan ashar lebih dari surat al-Fatihah. Ini termasuk perbedaan pendapat ulama yang sifatnya mubah. Bukan perbedaan yang satu hukumnya terlarang dan yang satu mubah. Boleh saja di dua rakaat terakhir, pada masing-masing rakaat seseorang membaca al-Fatihah saja. Boleh juga di dua rakaat terakhir dia tambahi dengan surat lain setelah al-Fatihah (lihat Ibnu Khuzaimah1/256). Hemat ana boleh membaca surat selain al-fatihah di dua rakaat terakhir . Allohu A'lam